Hidup Dibawah Naungan Cahaya Islam

Rabu, 04 April 2012

MENGEJAR BEASISWA KE TIMUR TENGAH

 
Mengejar Beasiswa Ke Timur Tengah
MENGEJAR BEASISWA KE TIMUR TENGAH
“Aku harus bisa kuliah ke timur tengah dengan beasiswa”, tukas seorang santri dengan himmah (cita-cita) yang kuat.
Cita-citaku
Kuliah ke timur tengah adalah impianku sejak aku masih di pondok pesantren. Berbekal keinginan yang kuat ini, aku mulai mempersiapkan diriku dengan masuk ke Ma’had Aly Tahfidzul Qur’an supaya hafalanku lancar dan lengkap 30 juz. Selain itu aku juga berusaha mencari informasi beasiswa pendidikan ke timur tengah, tujuan awalku adalah bisa kuliah di Univesitas Islam Madinah. Sampai suatu ketika ada kabar bahwa ada muqobalah (tes penerimaan mahasiswa baru) Universitas Islam Madinah.
Dengan semangatku aku berangkat ke Gontor bersama teman-temanku karena saat itu tes muqobalah diselenggarakan di Gontor. Ketika kami mengikuti tes tulis kami dapati soal-soalnya mudah. Kemudian dilanjutkan dengan tes lisan. Nah biasanya pada saat tes lisan kita akan ditanyai berapa hafalan yang kita punyai, jika hafalan kita banyak apalagi sampai 30 juz maka kata ustadz-ustadzku peluangnya besar untuk diterima di Madinah. Benar juga apa yang beliau pesankan kepada kami. Ketika aku maju menghadap salah satu syeh yang menjadi tim penguji, pertanyaan awal yang ia lontarkan adalah sebagai berikut;


الشيخ   : كم حفظت ومن القران؟                  (berapa hafalan Qur’an yang kamu punyai?
انا       : الحمدلله, حفظت ثلثون جزءا             (alhamdulillah saya hafal 30 juz) 
الشيخ   : سبحان الله والان إستمر هذه الاية ؟(Subhanallah, sekarang tolong lanjutkan ayat ini)
انا       : لبيك                                                                               (baiklah)

Soal yang diberikan oleh syeh tersebut aku jawab dengan lancar hingfa pada akhirnya aku ditanya mau mengambil jurusan apa? Dengan yakin aku menjawab aku memilih jurusan sastra arab. Dengan penuh harap aku menunggu pengumuman hasil tes muqobalah. Selang tiga bulan pengumuman dipublikasikan via internet, jantungku berdegub kencang dan tidak sabar membuka hasil pengumuman tes. Dengan cermat aku amati satu persatu nama-nama yang diterima. Setelah usaha itu ternyata aku tidak termasuk ke dalam daftar mahasiswa yang diterima di Universitas Islam Madinah. Dengan perasaan kecewa aku pun tetap berusaha tegar.
Seiring dengan bergulirnya waktu dan bergantinya tahun ternyata semangatku kalah dengan teman-temanku. Salah satu temanku yang bersemangat ingin ke Timur Tengah mendaftar beasiswa dan ternyata ia diterima di Syria.

 Mahasiswa Syria
Nah ini dia ada kabar dari salah satu sahabat kita yang menimba ilmu di Syria. Berikut ini kisahnya dari hasil wawancara kami dengannya via intenet.
Perjuanganku untuk belajar ke timur tengah akhirnya tercapai meski lika-likunya panjang. Ketika aku mengikuti tes beasiswa ke Syria aku dinyatakan lolos. Aku sangat senang sekali dan tidak sabar ingin melihat timur tengah seperti apa dan ingin sekali belajar dengan para masyayeh disana. Diumumkan kami akan berangkat sekitar sebulan lagi tapi ternyata pada akhirnya selalu mundur-mundur hingga kami jadi berangkat setelah menunggu hampir lima bulan, waktu yang cukup lama.
Tepatnya tanggal 24 September 2011 aku berangkat dari bandara Soekarno Hatta Jakarta. Ini juga merupakan pengalaman pertamaku bisa naik pesawat, maklum aku orang desa pelosok di bawah Gunung Merapi jadi belum pernah merasakan bagaimana rasanya berada di atas awan dengan kendaraan yang paling canggih di dunia ini yaitu pesawat terbang.
Setibanya di Syria kami membawa barang-barang bawaan menuju asrama yang katanya disitulah tempat tinggal kami nantinya. Dengan barang bawaan kami yang berat dan rasa lelah kami yang tak tertahankan, kami masuk dan istirahat sambil ngumpul bersama. Seketika itu kami dikagetkan dengan suara orang asli sana yang tiba-tiba memarahi kami dengan bahasanya yang kami tidak fahami pada saat itu. Kami pun terhenyak kaget mengingat sebelumnya kami diberitahu bahwa orang Syria itu lemah lembut seperti Orang Jawa dan nyatanya yang kami dapati justru sebaliknya mirip Orang Batak. Setelah tinggal beberapa hari disana baru kami paham bahwa orang sana tidak suka jika ada orang yang ngumpul rame-rame karena disangka akan demo.
Selang satu hari kami tinggal di asrama, paginya dengan semangat belajar yang tinggi kami menuju jami’ah (universitas) tempat kami kuliah. Setelah mendengar beberapa ulasan dari para dosen disana ternyata kami harus masuk ke I’dadul Lughoh (persiapan bahasa) selama satu tahun baru nantinya resmi diterima dan aktif kuliah disana. Kami semua sedikit kecewa karena hal ini berarti akan semakin lama kami belajar disana. Padahal menurutku bahasa dosen itu mudah untuk dipahami hanya saja aku kurang berani untuk ngomong.

Kabar terkini
Keadaan Syria kini mulai kacau. Di beberapa kota seperti Homs, Halb, Idlib, Da’a, Hamat dan pinggiran kota Damaskus, bisa dipastikan setiap hari tejadi pembunuhan rakyat sipil yang dilakukan oleh rezim asad. Ada beberapa kampung di kota Homs yang saat ini tidak ada aliran listrik, gas dan aliran air untuk shalat. Kurangnya bahan makanan dan obat-obatan semakin memperparah keadaan dan menambah angka kematian disana. Kota Damaskus yang dulunya aman kini mulai kacau, dimulai dari demo kecil-kecilan sampai ada pertumpahan darah. Kini konflik di Damaskus sudah masuk k kota yang sebelumnya hanya di pinggiran.
Mayoritas penduduk Syria adalah Islam, hanya saja ada satu tempat namanya Ma’lula yang mayoritas penduduknya nasrani. Kami pernah kesana dan kami dapati dimana-mana dipampang lambang salib yang besar-besar. Aku kadang berkesimpulan penduduk Syria sama dengan Indonesia yaitu cara hidupnya mengikuti trend mode barat, dimulai dari pakaiannya dan lain-lain.

Ulama-ulama Syria
Untuk kualitas dan kuantitas ulama-ulama di Syria jangan ditanya, mereka sangat produktif, karangan mereka memenuhi maktabah (perpustakaan) terutama Syekh Wahbah, Syekh Buthi dan Syekh Bugho. Disini kita bisa belajar dan bertatap muka secara langsung dengan mereka, bahkan kita bisa mengobrol dengan mereka tidak seperti dinegeri lain. Aku kadang menemui Syekh Wahbah sehabis kajian atau waktu beliau berangkat ke masjid. Sayangnya disini untuk ihtirom (penghormatan) terhadap para masyayekh sangatlah kurang, contoh saja ketika Syekh Wahbah ke masjid beliau berjalan sendiri tanpa ada yang mengawal, orang-orang pun cuek dengan keadaan ini. Di Damaskus ada jami’ umawi namanya, disanalah para masyayekh kibar (syekh-syekh besar) mempunyai dars (pelajaran), setiap jam pasti ada halaqoh dan kajiannya pun bermacam-macam.

Motivasi belajar
Semangat belajar thulab (mahasiswa) disini luar biasa, kadang mereka  sampai bingung mau memilih dars (pelajaran) yang mana karena mulai dari ahli hadits, fiqih, qiro’ah dan lain-lain semuanya ada. Hanya saja disini tidak bisa ngomong bebas tentang aliran seperti di Indonesia. Salah satu contohnya ada seorang ulama yang mengkafirkan syi’ah maka ia dipenjara selama 70 tahun. Memang mayoritas penduduknya Sunni tetapi yang menguasai negeri ini adalah kaum syi’ah. Mereka memberi ruang yang luas bagi syi’ah Iran untuk keluar masuk Syria mengunjungi beberapa tempat yang bersejarah menurut mereka sambil melakukan ritual-ritual yang syirik. Pemerintah (syi’ah) melarang buku-buku karangan ulama Saudi dan selalu bermusuhan dengan Arab Saudi.
Kebudayaan Syria
Orang Syria sangat menjaga harga diri, bahkan demi menjaga nama baik keluarga mereka., ketika anak perempuannya hamil diluar nikah maka sang bapaknya langsung membunuh anak perempuan tersebut. Oleh karena itulah disana jarang sekali ditemukan zina. Ada satu adat yang kurang bagus disini yaitu masalah mahar perempuan. Mahar disini sangat mahal yaitu diatas 50 juta. Kadang muncul istilah kalau mau nikah harus punya 5 k, yakni; kunci mobil, kunci rumah, kunci apartemen, kunci kantor dan kartu ATM. Maz Sar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar