Hidup Dibawah Naungan Cahaya Islam

Rabu, 21 Maret 2012

Life Is A Style ? (bag. 1 dari 2)

Life Is A Style ? (bag. 1 dari 2)

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan shahabatnya. Amiin

Saudaraku, anda pernah mendengar motto : Life is a style? Atau mungkin anda termasuk yang terinspirasi oleh motto ini? Kalau anda adalah orang jawa, saya yakin anda diajari motto: "ajining rogo soko busono" (harga diri tercermin dari pakaian)".

Saudaraku! Coba anda bayangkan, apa perasaan anda ketika sedang berpenampilan perlente, semerbak wangi, pakaian, sepatu, jam tangan, tas dan lain sebagainya serba bermerek, dengan harga selangit.
 
Bahkan tidak jarang dari saudara kita yang beranggapan bahwa agar penampilannya lebih sempurna, ia masih perlu untuk menyisipkan sebatang rokok putih di bibirnya.
Kereen, waah, dan penuh percaya diri. Kira-kira begitulah perasaan yang bergemuruh dalam jiwa anda kala itu. Bukankan demikian saudaraku?

Sebaliknya: Bayangkan anda sedang berpenampilan gembel, baju compang camping, sendal jepit, berjalan di salah satu pusat belanja tersohor di kota anda. Bagaimana perasaan anda saat itu? Mungkinkah saat itu anda bisa tampil dengan percaya diri dan tetap menegakkan kepala, apalagi membusungkan dada?

Saudaraku! Anda pernah berkunjung ke Cibaduyut-Bandung? Betapa banyak produk dalam negri dengan mutu ekspor seret di pasaran dalam negri. Program cinta produk dalam negri senantiasa kandas, dan hanya sebatas isapan jempol sesaat, dan segera sirna.

Sebaliknya, berbagai produk dalam negri setelah diberi lebel oleh perusahaan asing, begitu laku di pasar, dan tentunya dengan harga yang berlipat ganda.
 
Saudaraku! Mari kita merenung sejenak, dan bertanya: Sejatinya, harga diri saya terletak dimana? Mungkinkah harga diri saya terletak pada pakaian, sepatu, jam, dan berbagai produk lainnya?.
 
Bila jawabannya tidak, lalu mengapa ketika berbelanja anda memilih barang dengan merek-merek terkenal yang harganya selangit? Padahal banyak merek lain, produk dalam negri, mutu yang sama dan tentunya dengan harga yang jauh lebih murah tidak masuk dalam nominasi daftar belanja anda?
Saudaraku! Atau mungkinkah kepercayaan diri anda terletak pada sepuntung rokok yang tidak lama lagi akan anda injak dengan sepatu anda?
 
Betapa sengsaranya diri anda bila anda beranggapan bahwa harga diri dan kepercayaan anda hanya tumbuh bila anda melengkapi diri anda dengan berbagai produk orang lain. Sehingga bila pada suatu saat anda tidak dilengkapi dengan berbagai aksesoris, anda merasa kurang percaya diri atau bahkan rendah diri.
 
Bahkan kalaupun anda dilengkapi dengan berbagai aksesoris mewah yang anda miliki, maka anda akan kembali merasakan rendah diri tatkala berhadapan dengan orang yang mengenakan aksesoris lebih wah dibanding yang anda kenakan.
 
Dan sudah barang tentu, bila harga diri anda terletak pada aksesoris yang melekat pada diri anda, maka tidak lama lagi harga diri anda akan ketinggalan zaman alias expire date.
 
Ketahuilah saudaraku, sejatinya harga diri anda terletak pada jiwa anda. Harga diri anda terpancar dari iman dan ketakwaan anda kepada Allah. Bila anda adalah orang yang berjiwa besar, benar memiliki harga diri, maka anda tetap percaya diri, walau tidak dilengkapi oleh berbagai aksesoris mewah dan bermerek. Harga diri anda terletak pada iman dan kedekatan anda kepada Allah Ta'ala.

)يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ( الحجرات 13

 
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al Hujurat 13)
 
Ketika Nabi r menjalankan Haji Wada' bersama umat Islam yang kala itu kira-kira berjumlah 100.000 jamaah haji, beliau menegaskan hal ini dengan berkata :

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِىٍّ عَلَى أَعْجَمِىٍّ وَلاَ لِعَجَمِىٍّ عَلَى عَرَبِىٍّ وَلاَ لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى). رواه أحمد

"Wahai umat manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah Maha Esa, dan ayah kalian satu (yaitu Nabi Adam). Ketahuilah, bahwa tidak ada kelebihan bagi orang arab dibanding non arab, tidak pula bagi non arab atas orang arab, tidak pula bagi yang berkulit putih kemerahan dibanding yang berkulit hitam, tidak pula sebaliknya bagi yang berkulit putih atas yang berkulit putih kemerahan kecuali dengan kataqwaan." Riwayat Ahmad
 
Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab menangis, karena menyaksikan punggung Nabi r bergaris-garis setelah berbaring di atas tikar daun kurma. Ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Raja Persia dan Romawi bergelimang dalam kemewahan, sedangkan engkau adalah utusan Allah demikian ini halnya . Mendengar ucapan sahabatnya ini, Rasulullah r bersabda:

(أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الآخِرَةُ). متفق عليه

 
"Tidakkah engkau merasa puas bila mereka mendapatkan kenikmatan dunia, sedangkan engkau mendapatkan kenikmatan di akhirat?" Muttafaqun 'alaih.
 
Jawaban ini begitu membekas pada jiwa sahabat Umar bin Al Khattab, sehingga beliau benar-benar menerapkannya dalam kehidupan. Sampaipun setelah beliau menjadi khalifah, dan berhasil menundukkan kerajaan Persia dan Romawi yang dahulu ia begitu kagum dengan kekayaannya setelah umat islam berhasil menguasai Baitul Maqdis, khalifah Umar bin Khatthab t datang ke sana guna menandatangani surat perjanjian dengan para pemuka penduduk setempat, sekaligus menerima kunci pintu Baitul Maqdis. Beliau datang dengan mengenakan sarung, sepatu kulit, dan imamah. Pada saat beliau hendak menyeberangi sebuah parit yang penuh dengan air mengalir, beliau turun dari onta dan tanpa rasa sungkan sedikitpun beliau menuntun tunggangannya tersebut.
 
Melihat penampilan beliau yang demikian itu, sebagian pasukan muslimin yang ikut serta menjemput kehadiran beliau berkata: Wahai Amirul Mukminin, engkau akan disambut oleh pasukan dan para pendeta Syam, sedang penampilanmu semacam ini? Beliau menjawab: "Sesungguhnya hanya dengan Islamlah Allah memuliakan kita, karenanya kita tidak akan mencari kemuliaan dengan jalan selainnya". Riwayat Ibnu Abi Syaibah
Dan pada riwayat Al Hakim berliau sahabat Umar berkata :

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

"Sesungguhnya kita dahulu adalah kaum paling hina, kemudian Allah memuliakan kita dengan agama Islam, maka acap kali kita berusaha mencari kehormatan / kemuliaan dengan selain agama islam , pasti Allah akan menimpakan kehinaan kepada kita."

Demikianlah halnya bila seseorang telah menemukan harga dirinya dalam jiwanya. Ia tidak merasa berkurang harga dirinya, karena kurangnya aksesoris yang melekat pada dirinya, dan ia juga tidak bertambah percaya diri karena berbagai aksesoris yang tersemat pada dirinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar