Hidup Dibawah Naungan Cahaya Islam

Rabu, 21 Maret 2012

Cinta Diatas Cinta

Cinta di Atas Cinta

Cinta merupakan hal yang lumrah dibicarakan diantara kita. Jikalau seorang manusia sudah berbicara tentang cinta, maka ia akan ingin terus membicarakannya. Cinta ibarat  samudra yang tidak  berbetepi yang mana bila seseorang telah jatuh ke dalamnya, maka ia akan dibuai ombak-ombaknya dan enggan untuk mencari tepian untuk berlabuh. Cinta ibarat  waktu yang terus berlalu yang  tidak diketahui ujung dan pangkalnya. Cinta dalam kehidupan begitu indah sehingga begitu sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Ia hanya terungkap dalam bentuk gerak-gerik anggota badan. Yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah cinta yang sejati. Apa itu cinta sejati.?
Cinta sejati
Cinta merupakan sebuah kata yang indah didengar, manis diucapkan, dan nikmat untuk dirasakan. Cinta merupakan sebuah karunia dan rahmat yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya.
Cinta sejati adalah cinta yang tulus dari seorang hamba kepada sang pencipta cinta yaitu Allah Ta’ala. Hakikat cinta yang tertinggi dan termulia dari seorang hamba adalah menghambakan diri kepada-Nya. Dan tiada yang berhak menerima cinta tersebut melainkan Sang pencipta alam semesta dan seisinya. Karena Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk menghambakan diri kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:51-56).

Barangsiapa yang memalingkan cinta yang sejati dari Allah Ta’ala kepada salain-Nya, maka itu sumber kebinasaan seorang hamba. Karena hal ini disebut cinta kesyirikan yang akan membinasakan pelakunya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “ Dan di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa(pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat sangat berat siksaan-Nya(niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah :165).
Cinta sejati harus ada bukti
Cinta memang  harus ada bukti untuk bisa mengetahui kebenaran cintanya. Namun yang amat disayangkan kebanyakan manusia saat sekarang ini mengaku bahwa ia mencintai Allah Ta’ala akan tetapi bersamaan dengan itu juga ia bermaksiat kepada-Nya. Bukankah orang yang mencintai itu akan selalu menuruti apa yang diperintahkan sang kekasihnya..?. Jikalau demikian adanya, benarkah pernyataan mereka yang mengatakan cinta kepada Allah Ta’ala namun pada saat itu juga ia menyelisihi apa yang diperintahkan Allah Ta’ala kepadanya.
Seorang penyair berkata :
Engkau katakan mencintai Allah tetapi engkau bermaksiat kepada-Nya.
ini merupakan sebuah permisalan yang rancu..
jikalau cintamu itu tulus kepada-Nya niscaya engkau akan menta’ati-Nya..
karena seorang
pecinta akan selalu menaati sang kekasihnya..

Jikalau seseorang telah mengaku bahwa ia mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka sudah tentu pernyataan tersebut bukanlah pernyataan yang sepele dan sekedar diucapkan begitu saja. Karena pernyataan cinta kepada Allah Ta’ala harus ada bukti nyata dalam kehidupan orang tersebut. Dan dengan itu juga ukuran keimanan seseorang akan di tentukan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “ Nabi itu(hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. (QS. Al- ahzab :6)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang artinya : “ Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku menjadi orang yang lebih ia cintai daripada anaknya,orang tuanya dan manusia semuanya.”(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Namun yang sangat menyayat hati kenyataan di sekitar kita, kebanyakan manusia mencintai orang lain melebihi cintanya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Bahkan sebagian manusia juga telah terjatuh kepada mencintai sesuatu jauh melebihi cintanya kepada diri sendiri, orang tua, maupun anak-anaknya sekalipun. Dan ironisnya sebagian umat ini telah mencintai sesuatu sebagai tandingan bagi Allah Ta’ala. Mereka mencintainya seperti cinta mereka kepada Allah Ta’ala. Wal’iyadzubillah.
Diriwayatkan dari Abdullah bin hisyam radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu Beliau menggandeng tangan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, lalu Umar berkata kepada Beliau, “ Wahai Rasulullah sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Tidak! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hingga aku menjadi orang yang lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar pun berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “ Sungguh sekarang, demi Allah Ta’ala engkau sungguh lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Maka Beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekaranglah wahai Umar!(yakni, baru sekaranglah imanmu sempurna).(HR. Bukhari)
Pedoman hakikat cinta
Allah Ta’ala telah telah memberikan sebuah pedoman untuk mengetahui hakikat pengakuan cinta seseorang. Bahwa yang menjadi ukuran dan bukti cinta seseorang kepada Allah  Ta’ala adalah sejauh mana ia dalam mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala menurunkan sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang dinamakan oleh para ulama ayatul imtihan(ujian) yang artinya: “ Katakanlah (Muhammad): “ jika kamu(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Penyayang.”(QS. Ali- ‘imran: 31)
Mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bukti cinta seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala memberikan janji kepada hamba-Nya berupa balasan cinta dan ampunan-Nya. Karena ia telah memenuhi syarat cinta. Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bukti dan realisasi pengakuan cinta seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus didahulukan dan diletakkan diatas cinta kepada yang lainnya. Dan inilah hakikat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sebenarnya. Barangsiapa yang menyelisihi, menyimpang, dan meningggalkan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, apalagi mengolok-ngolok, meremehkan, menghina dan menghujat sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala, sekaligus menghilangkan kesempurnaan atau bahkan seluruh keimanannya.
Maka oleh karena itu janganlah sekali-kali kita melakukan hal-hal yang dapat membatalkan keimanan kita. Cintailah Allah Ta’ala dan rasul-Nya dengan cinta yang sempurna, niscaya kita akan merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hanya kepada-Nyalah seharusnya kita memberikan cinta di atas cinta. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan orang yang membacanya. Wa lillahil mahabbah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar