Hidup Dibawah Naungan Cahaya Islam

Rabu, 21 Maret 2012

Belajar Dari Sebuah Kesalahan

Belajar dari sebuah Kesalahan


بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله العلي الكبير، الحميد المجيد؛ شرع الدين لمصالح العباد، وبيّن لهم ما ينجيهم يوم المعاد (إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [البقرة:132]

الحمد لله حمداً يليق بجلاله وعظيم سلطانه (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الحَمْدُ فِي الأُولَى وَالآَخِرَةِ وَلَهُ الحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ) [القصص:70]

الحمد لله حمداً طيباً كثيراً مباركاً فيه لا نحصي ثناء عليه كما أثنى هو على نفسه؛ أبهج بالعيد نفوسنا، وشرع لنا أضحيتنا، وأكمل لنا

ديننا، وأتم نعمته علينا، ودفع السوء عنا، ومن كل خير أنالنا، هو ربنا ومالكنا ومعبودنا، نواصينا بيده، ماض فينا حكمه، عدل فينا قضاؤه، لا إله إلا هو الرحمن الرحيم.

الحمد لله نحمده ونشكره ونتوب إليه ونستغفره؛ يجزي على الحمد حمداً وفضلاً، ويكافئ على الشكر زيادة وبِرَّاً، ويدفع بالاستغفار عقوبة ويغفر ذنباً، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له؛ عمَّ فضلُه العالمين، ووسع إحسانُه الخلقَ أجمعين، وكتب رحمته للمؤمنين، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله؛ أنار الله تعالى به الطريق للسالكين، ورفع ذكره في العالمين، وجعله حجة على العباد أجمعين، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وأصحابه السادة المتقين، والغر الميامين، وعلى التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين.

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.


Hadirin yang dimuliakan Allah
Segala puji hanyalah milik Allah yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang Dialah yang telah menganugrahkan kepada kita kesempatan dan kesehatan sehingga kita dapat melaksanakan salah satu syiar Allah berupa hari raya Idul Adha 1431 H, sebuah kebahagiaan yang tak terkira dimana setiap kita mampu memetik hikmah dari sebuah prosesi ibadah yang Allah Syariatkan kepada kita, banyak hikmah yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita dalam ibadah 'Idul Adha, diantaranya, bahwa idul Adha adalah sebuah upaya untuk menghidupkan Sunnah Imamul muwahhidin, Ibrahim Alkhalil Alaihissalam ketika Allah mewahyukan kepadanya untuk menyemblih putranya Ismail Alaihissalam lalu Allah menggantikannya dengan domba yang kemudian domba itu disemblih Ibrahim sebagai pengganti Ismail sebagaimana dikisahkan Allah dalam FirmanNya :

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ


" dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar" (QS.Asshaffat :107)
idul adha sebagai momentum untuk berbagi kepada kaum muslimin, keluarga, terkhusus sebagai ungkapan kasih sayang kepada kaum fakir miskin; dalam rangka memupuk rasa peduli dan solidaritas kepada sesama terutama bagi mereka yang kekurangan, sungguh merupakan suatu kenikmatan ketika masing-masing individu kaum muslimin memiliki sensitivitas tinggi atas penderitaan saudaranya. Rasulullah shallallahu 'Alahiwasallam bersabda :

[ عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة ومن ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه

" barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagi kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan mudahkan baginya di dunia dan akherat dan siapa yang menutupi aib seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akherat. Allah selalu menolong Hambanya selama hambanya menolong saudaranya.. (HR. Athabrani)
dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu A'laihi Wasallam bersabda:

ما عمل ابن آدم يوم النحر عملا أحب إلى الله عز وجل من هراقة دم وإنه ليأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها وإن الدم ليقع من الله عز وجل بمكان قبل أن يقع على الأرض فطيبوا بها نفسا .


" tidaklah seorang manusia berbuat suatu amal pada hari nahar yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kukudan bulunya. Dan sesungguhnya darah (hewan kurban) itu pasti menempati (suatu tempat) disisi Allah (diterima) sebelum jatuh menempati suatu tempat dibumi, maka relakanlah itu (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, Dihasankan)
Hadirin yang dimuliakan Allah

Menolong saudara kita tidak hanya terbatas dalam bentuk materi saja, akan tetapi mencegah mereka terlarut dalam perbuatan zalim dan dosa juga merupakan bentuk kongkrit dari menolong. Rasulullah bersabda :

عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا ». قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ :« تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ». أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى الصَّحِيحِ

"dari Anas RadiyAllahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam Bersabda: Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim atau yang dizalimi para sahabat bertanya : kami menolong yang dizalimi (adalah hal yang lumrah) bagaimana kami menolong orang yang berbuat zalim beliau bersabda: cegahlah ia dari kezaliman. ( Dikeluarkan oleh: Bukhari dalam Shaihnya)
Hadits- hadits yang mulia ini sangatlah relevan untuk kita renungkan pada saat ini, dimana bangsa kita sedang didera dengan berbagai cobaan yang tidak sedikit menelan korban jiwa , harta dan keimanan. semua ini menuntut kita untuk saling bahu membahu, kerjasama demi meringankan beban saudara kita, musnahnya jiwa, harta dan yang lainnya adalah (keniscayaan) dalam sebuah musibah tetapi hal yang mungkin harus kita tingkatkan kewaspadaan dan perenungan adalah: mencoba bertanya apakah datangnya musibah yang intensitasnya cenderung bertubi-tubi ini semata-mata sebuah fenomena alam serta akibat dari kesalahan teknik, kurang matangnya konsep pengelolaan alam dan lain sebagainya, atau ada faktor lain yang lebih perinsipil? Jika penyebabnya adalah apa yang disebutkan tadi maka kita dituntut tuk lebih meningkatkan profisionalitas dalam berbagai bidang. Namun, sebagai seorang muslim kirannya disamping memperhatikan hal-hal yang riel dalam penyelesaian masalah juga hendaknya ia tidak melupakan persefektif syar'i dalam menganalisa penyebab dan cara penanggulangannya. Musibah (azab) timbul tidak lain bermuara dari keteledoran manusia, perbuatan maksiat yang tidak kunjung berhenti dan bertaubat. di dalam alqur'an maupun sunnah Rasulullah telah diuraikan secara jelas bagaimana kesudahan orang-orang yang telah bermaksiat kepada Allah, kalau kita coba mengajukan pertanyaan- pertanyaan berikut, niscaya akan kita temukan jawabannya.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan ayah dan ibu kita adam Alaihissalam dan Isterinya hawwa, dikeluarkan dari surga -negeri yang penuh dengan kelezatan ,kenikmatan,keindahan dan kegembiraan menuju tempat yang penuh dengan penderitaan, kesedihan dan musibah (bumi)?
Bukankah dosa telah mengeluarkan iblis dari kerajaan langit sekaligus menjadikannya terusir dan terlaknat ? Kondisi lahir dan bathinnya pun di ubah menjadi lebih buruk . Lahirnya dijadikan sejelek-jelek dan seburuk-buruk rupa, sedangkan bathinnya dijadikan lebih jelek dan lebih buruk daripada lahirnya. Kedekatan Iblis (dengan Allah) berubah menjadi jauh ; rahmah menjadi laknat; keindahan menjadi kejelekan ;surga menjadi neraka yang berkobar-kobar;Iman menjadi kekufuran ;pertolongan menjadi permusuhan ;penentangan, gema tasbih, tahlil,dan penyucian menjadi gema kekufuran, kesyirikan,kedustaan, dan kebejatan; serta pakaian keimanan menjadi pakaian kekufuran , kefasikan dan kedurhakaan. Hinalah Iblis dihadapan Allah, dengan serendah-rendahnya, dan jatuhlah posisinya dalam pandanganNya.
Bukankah dosa yang menyebabkan tenggelamnya penduduk bumi hingga air menutupi puncak-puncak pegunungan?
Bukankah dosa yang menyebabkan terbenamnya qorun beserta harta ,tempat tinggal dan keluarganya?
Bukankah dosa yang menyebabkan tenggelamnya fir'aun dan kaumnya dalam lautan? Arwah mereka lalu dipindahkan ke neraka jahannam ; sehingga jasad-jasad mereka tenggelam ,sedangkan ruh-ruh mereka terbakar
Bukankah dosa yang menyebabkan Bani Israil ditimpa berbagai macam hukuman ? Terkadang dengan pembunuhan , perbudakan , hancurnya negeri, hadirnya para raja yang dzalim, mengubah mereka menjadi kera dan babi sampai akhirnya Rabb tabaroka wata'la bersumpah:

(لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ).



" bahwa sesungguhnya di akan mengirim kepada mereka (orang-oarang yahudi) sampai hari qiyamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya..(QS. Al'araf:167).
Hadirin yang dirahmati Allah
jadi kalau hari ini bencana begitu akrab mendera masyarakat kita mulai dari gunung meletus, banjir bandang, gempa bumi, angin puting beliung, Tsunami, tidak kunjung pulihnya persoalan persoalan ekonomi, politik,keamanan dan sebagainya maka sayogyanya anak bangsa mau berintrospeksi dan menganalisa penyebabnya yang lain yaitu; jauhnya kita dari taubat dan istigfar; banyak perintah Allah terabaikan sementara larang-laranganNya diterjang dan dilanggar, sebuah bangsa betapapun superioritasnya maka dihadapan Allah menjadi sangat hina bila ia meninggalkan taqwa.

Imam Ahmad mengabarkan dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair , dari ayahnya , dia berkata : Tatkala cyprus ditaklukkan , penduduknya tercerai-berai dan bertangisan. Ketika itu aku, melihat Abu Dardaa duduk mengis seorang diri ,. aku bertanya kepadanya : hai Abu dardaa , apa yang mnyebabkanmu menangis pada hari Allah memuliakan islam dan pemeluknya ini ?.
Beliau menjawab : celaka kamu wahai jubair. Betapa hinanya manusia dihadapan Allah saat mereka mengabaikan perintahNya. Mereka adalah Ummat yang kuat , tangguh, perkasa , serta memiliki kerajaan . Namun, ketika mengabaikan perintah Allah , mereka menjadi seperti yang kau lihat sendiri.(Atsar dengan sanad sahih).
Dalam riwayat lain Ibnu Abiddunya menyebutkan sebuah hadits mursal bahwasanya pernah terjadi gempa bumi pada zaman Rasulullah Shallahu A'laihi Wasallam beliaupun meletakkan tangannya diatas bumi seraya bersabda : " tenanglah karena waktumu belum tiba " kemudian nabi berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda : sesungguhnya Rabb kalian sedang menegur kalian, maka perhatikanlah tegurannya (Alhakiim menyebutkan Hadits ini saheh berdasarkan syarat muslim tetapi tidak disebutkan oleh Bukhari dan Muslim).
Hadirin yang dimuliakan Allah.
Dampak buruk dari maksiat ternyata tidak hanya terhenti pada hilangnya keseimbangan alam dan musnahnya jiwa serta harta benda semata, akan tetapi ada dampak-dampak immaterial lain yang patut untuk kita waspadai. Imam Ibnu Qayyim Aljauziah menyebutkan dalam kitab beliau Addau Waddawa 51 danpak buruk dari maksiat, disini khatib hanya akan menyebutkan beberapa diantaranya dengan harapan bisa kita mengambil hikmah dan pelajaran darinya ;
1. Maksiat membuat semua urusan dipersulit.
Tidaklah pelaku maksiat melakukan suatu urusan, melainkan dia akan menemui berbagai kesulitan dan jalan buntu dalam menyelaesaikannya.
Demikianlah faktanya. Sekiranya orang itu bertaqwa kepada Allah niscaya urusannya dimudahkan olehNya. Begitu pula sebaliknya, siapa yang mengabaikan taqwa niscaya urusannya akan dipersulit olehNya. Alangkah mengherankan! Bagaimana mungkin seorang hamba menyaksikan pintu-pintu kebaikan dan kemaslahatan tertutup serta jala-jalannya menjadi sulit, tetapi ia tidak mengetahui darimana asalnya.
2. Kemaksiatan memperpendek dan menghilangkan keberkahan umur.
Jika kebaikan memperpajang umur, berarti kedurhakaan menguranginya. Maksiat dikatakan mengurangi umur karena hakekat kehidupan sebenarnya adalah hidupnya hati. Oleh karena itu, Allah menyebut orang kafir sebagai orang mati, tidak hidup, sebagaimana firmanNya :

أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاء


"mereka adalah orang mati tidak hidup" (QS. Annahl:21)
secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa jika seorang hamba berpaling dari Allah dan sibuk dengan berbagai kemaksiatan, maka sirnalah kehidupan hakikinya yang kelak ia temui. Pelakunya akan merasakan akibat kemaksiatan tersebut pada hari ketika ia mengungkapkan penyesalannya :


(ُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي )

" alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjkan (amal Shaleh) untuk hidupku ini (QS. Alfjr:24).
3. Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan lain yang semisalnya.
Kemaksiatan akan menanam benih kemaksiatan lain yang semisalnya. Sebagiannya melahirkan sebagian yang lain. Sampai-sampai pelakunya merasa sulit untuk meninggalkan dan keluar dari maksiat tersebut. Sebagian salaf mengatakan ; " hukuman dari keburukan adalah meunculnya keburukan setelahnya, sedangkan ganjaran dari kebaikan adalah munculnya kebaikan sesudahnya. Jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka kebaikan lain akan berkata kepadanya: amalkan aku juga, apabila dia melakukannya, maka kebaikan yang lain lagi akan mengatakan hal yang serupa, demikianlah seterusnya. Alhasil berlipatgandalah keuntungannya dan bertambalah kebaikannya. Demikian pula dengan maksiat. Hal ini terus berlangsung hingga ketaatan atau kemaksiatan menjadi suatu sifat dan kebiasaan yang melekat dan tetap pada diri seseorang.
4. Maksiat menyebabkan hati tidak lagi menganggapnya sebagai perkara yang buruk.
Karena hal itu telah menjadi kebiasaan. Dalam kondisi demikian, pelaku maksiat tidak lagi peduli dengan pandangan manusia yang menganggap dirinya buruk , ataupun komentar jelek mereka terhadapnya. Bahkan bagi pemuka kefasikan, kondisi ini merupakan puncak ketidakpedulian dan kesempurnaan kelezatan. Sampai-sampai, salah seorang dari mereka berbangga diri dengan maksiat. Ia berkata wahai fulan, aku telah berbuat ini dan itu. Manusia seperti ini tidak pantas dilindungi. Akibatnya, dia terhalang dari jalan menuju taubat dan pintu-pintunya pun biasanya telah tertutup. Nabi Shallahu A'laihi Wasallam bersabda ;


عن سالم بن عبد الله بن عمر قال سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يقول كل أمتي معافى إلا المجاهرين وإن من الإجهاز أن يستر الله على العبد ثم يصبح يفضح نفسه ويقول : يا فلان ! عملت يوم كذا وكذا ، كذا وكذا فيهتك نفسه ، وقد با ت يستره ربه


" setiap ummatku dilindungi , kecuali Almujaahiruun ( orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa ) termasuk sikap menampakkan maksiat adalah ketika Allah menutupi (maksiat) hambaNya (pada malam hari), kemudian pagi harinya dia memaparkannya dan berkata; " wahai puan pada hari ini dan itu aku telah melakukan begini dan begitu, ia membongkar kejelekan dirinya sendiri, padahal pada malam hari Rabbnya telah menutupinyA(HR. Bukhari Dan Muslim).
5. Maksiat adalah penyebab kehinaan seorang hamba.
Maksiat menyebabkan seorang hamba menjadi hina dihadapan Allah dan rendah dalam pandanganNya. Alhasan Albashri berkata: "mereka adalah orang-orang yang hina dihadapan Allah, sehingga merekapun bermaksiat kepadaNya. Sekiranya mereka adalah orang-orang yang mulia dihadapanNya(Allah) tentulah dia akan menjaga mereka.
Jika seorang hamba telah hina dihadapan Allah, maka tidak ada seorangpun yang akan memuliakannya. Allah Subhanahu Wata'alaa berfirman :


وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِم


" dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya (QS.Alhajj: 18)
apabila ternyata orang-orang memuliakannya secara lahir, maka itu pasti dikarenakan mereka memiliki hajat terhadapnya, atau takut dengan kejahatannya, padahal dia adalah orang yang paling rendah dan hina didalam hati mereka.
6. Maksiat merusak akal
Sungguh akal memiliki cahaya, sedangkan maksiat pasti memadamkan cahayanya. Jika cahay tersebut padam, niscaya kemampuan akalpun berkurang dan melemah. Sebagian salaf berkata: " tidaklah seorang bermaksiat kepada Allah melainkan akalnya hilang".

Hal ini sangat jelas karena apabila akal seorang sehat, pasti ia akan mencegah pelaku maksiat dari maksiatnya. Akalnya akan menyadarkannya bahwa ia berada dalam genggaman Rabb, dibawah kekuasaanNya, didalam negeri dan bumiNya, diawasi oleh Allah, dan para Malaikat serta bertindak sebagai saksinya.
7. Maksiat menjadi penyebab kerusakan
Diantara dampak dosa dan maksiat adalah menyebabkan kerusakan dimuka bumi, baik diydara, air, pertanian, buah-buahan, maupun tempat tinggal.
Allah berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

" telah tanpak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali(kejalan yang benar) (QS. Arrum:41)
Imam Mujahid berkata: jika orang zalim menjadi penguasa, pasti dia akan berbuat kerusakan dan kezaliman.akibatnya, Allah menahan hujan sehingga binasalah tanaman dan binatang ternak, padahal Allah tidak menyukai kerusakan ".
setelah itu, beliau membaca firman Allah :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

dalam konteks ini termasuk diantara danpak maksiat bagi bumi adalah terjadinya tanah longsor, gempa bumi, dan berkahnya dihilangkan. Rasulullah pernah melewati daerah kaum tsamud beliau melarang para sahabatnaya untuk memasuki daerah tersebut, kecuali dalam keadaan menangis. Beliau juga mencegah para sahabat dari meminum air kaum Tsamud serta menimba sumur-sumur mereka. Sampai-sampai, beliau memerintahkan agar adonan tepung yang dibuat dengan air mereka diberikan kepada unta(tidak dimakan oleh mereka). Larangan ini disebabkan air tadi telah terkena dampak kesialan dosa mereka. Kekurangan dan kerusakan yang terjadi pada buah-buahan pun merupakan dampak dari kesialan dosa.

Di dalam musnad Imam Ahmad menyebutkan penggalan suatu riwayat, beliau berkata: Terdapat sebutir biji gandum yang besarnya seperti biji kurma didalam gudang penyimpanan bani Umayyah. Biji tersebut terdapat dalam kantung yang diatasnya tertulis Inilah yang pernah tumbuh pada zaman keadilan".
Hadirin yang dirahmati Allah

Tidak seorang pun diantara kita bisa terlepas dari sebuah kesalahan dan dosa namun terkubang terus dalam dosa adalah malapetaka yang patut untuk kita waspadai dengan taubat dan istigfar, tentu kita tidak ingin hidup dalam suasana yang serba tidak aman dan nyaman maka Agama kita yang mulia ini memberikan solusi yang tepat untuk keluar dari permasalahan. Allah berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (56)

" Allah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dibumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah diridlai dan Dia benar-benar akan mengubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun tetapi barangsiapa yang tetap kafir setelah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul agar kamu diberi rahmat. (QS. Annur:55-56).
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda :

[ عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله تعالى عنهما قال : كنت خلف النبي صلى الله عليه وآله وسلم يوما فقال يا غلام إني أعلمك كلمات : إحفظ الله يحفظك إحفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشئ لم ينفعوك إلا بشئ قد كتبه الله لك وإن اجتمعوا على أن يضروك بشئ لم يضروك إلا بشئ قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف ] رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

" dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas RadiyaAllahu Anhumaa. Beliau berkata: suatu saat saya berada dibelakang Nabi Shallahu Alaihi Wasallam maka beliau bersabda: wahai ananda saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu jika kamu meminta mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan mohonlah pertolongan kepada Allahketahuilah sesungguhnya jika sebuah ummat berkumpul untuk mendatangkan mamfaat kepadamu atas sesuatu mereka tidak akan dapat memberi mamfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepadamu dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang Allah tetapkan bagimu pena telah diangkat dan lembaran telah kering ( HR. Attirmidzi )
Diantara kesimpulan yang bisa dipetik dari hadits ini adalah :
(1) beramal shaleh serta melaksanakan perintah Allah dapat menolak bencana dan mengeluarkan seseorang dari kesulitan
(2) siapa yang konsekwen melaksanakan perintah-perintah Allah niscaya Allah akan menjaganya didunia dan Akherat
(3) manusia tidak akan mengalami musibah kecuali dengan ketentuan Allah.
Akhirnya semoga Allah selalu memberikan Taufiq dan HidayahNya kepada kita agar selalu berpegang kepada agamaNya dan sunnah RasulNya.
[ Oleh : Abu Hilya Muhsan Syarafuddin, Lc ]

اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، واحم حوزة الدين، واجعل هذا البلد مطمئنا وسائر بلاد المسلمين. اللهم أقم علم الجهاد، واقمع سبيل أهل الشرك والريب والفساد، وانشر رحمتك على هؤلاء العباد، يا من له الدنيا والآخرة وإليه المعاد. عباد الله إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون. وأوفوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم كفيلا، إن الله يعلم ما تفعلون. فاذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar